Meraih Berkah Ramadhan Bersama Keluarga
Oleh: M. Yusuf Shandy, Lc.[1]
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan puasa dan bulan diturunkannya al Quran. shalawat dan salam semoga dilimpahkan selalu kepada Rasulullah SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya, dan orang-orang yang setia mengikutinya hingga hari kiamat.
Alhamdulillah, Ramadhan, bulan penuh berkah, ampunan dan rahmat Allah SWT sudah di depan mata. Alangkah indahnya jika kita bertemu dengan bulan tersebut dan dapat memanfaatkannya dengan baik, sehingga kita menjadi alumni madrasah Ramadhan yang sukses meraik predikat takwa, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [02]: 183)
Selain disebut sebagai bulan puasa dan bulan diturunnya al-Quran, Ramadhan juga dikenal sebagai bulan penuh berkah, dimana setiap amal kebaikan yang dilakukan pada bulan ini, pahala dan balasannya dilipat gandakan oleh Allah SWT. Penamaan Ramadhan sebagai bulan penuh berkah diungkapkan langsung oleh Rasulullah SAW. Dalam sejumlah khutbah Rasulullah saw yang disampaikannya jelang Ramadhan, beliau selalu menyertakan kata ‘berkah’.
Dalam salah satu khutbahnya jelang Ramadhan, beliau mengungkapkan, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan di dalamnya puasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu langit, menutup pintu neraka, dan membelenggu setan-setan. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan kebaikan malam itu maka ia sungguh telah diharamkan (dari kebaiakan).” (HR. Ahmad, Nasa’i dan Baihaki).
Salman al-Farisiy radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa pada akhir bulan Sya’ban Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan kami, beliau bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan dinaungi oleh suatu bulan yang agung lagi penuh berkah; bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Pada bulan tersebut Allah SWT menjadikan puasa sebagai kewajiban dan shalat malamnya sebagai tahawwu’ (ibadah sunnah yang sangat dianjurkan). Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan amalan sunnah, ia diberi pahala sama seperti menunaikan kewajiban (fardhu) di bulan yang lain.Siapa yang menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan, ia diberi pahala sama dengan orang yang mengerjakan 70 kali kewajiban di bulan yang lain.
Ramadhan adalah bulan sabar, sedang sabar itu tiada lain balasannya selain surga (al-jannah). Ramadhan adalah bulan berbagi simpati (memberikan pertolongan) dan bulan dimana Allah menambah rizki orang-orang mukmin. Siapa saja yang pada bulan itu memberikan makanan berbuka kepada orang yang puasa, maka perbuatan itu menjadi pengampunan atas dosa-dosanya, ke-merdekaan dirinya dari api neraka, dan ia mendapatkan pahala seperti pahala orang berpuasa—yang diberinya makanan berbuka itu—tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.”
Para sahabat berkata, “Ya Rasululullah, tidak semua dari kami memiliki makanan untuk dapat diberikan kepada orang-orang yang berpuasa.”
Rasulullah Saw kemudian menjawab, “Allah memberikan pahala tersebut (seperti yang telah disebutkan) kepada siapapun orang yang memberikan buka puasa walau hanya sebutir korma atau sekedar seteguk air atau sehirup susu. Bulan Ramadhan adalah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka. Siapa yang meringankan beban orang yang dikuasainya (hamba sahaya atau bawahannya), niscaya Allah mengampuni dosanya dan membebaskannya dari api neraka.
Perbanyaklah oleh kalian empat perkara di bulan Ramadhan ini; dua perkara diantaranya membuat Tuhan ridha terhadap kalian dan dua perkara lainnya sangat kalian butuhkan. Dua perkara yang membuat Tuhan ridha dengan kalian adalah bersaksi bahwa tiada Tuhan yang pantas disembah selain Allah dan kalian memohon ampunan-Nya (istigfar). Adapun dua perkara yang kalian sangat butuhkan adalah memohon surgaNya dan memohon lindungan dari api neraka. Siapa saja yang memberi minum kepada orang yang berpuasa niscaya Allah akan memberinya minum dari air kolamku yang dengannya dia tidak akan merasa haus—setelah meminumnya—hingga ia masuk surga.” (HR. Ibn Khuzaimah dalam Shahih-nya [3/191, No.1887], al-Haetsami dalam az-Zawaid [1/412, No.321], dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman [3/305, No.3608), dan Ibn Hibban)
Hakikat Berkah
Dalam bahasa Arab, kata ‘berkah’ dikenal dengan istilah al-barakah. Al-barakah berasal dari kata ba-ra-ka, yang berarti zada (tumbuh) dan namaa (berkembang). Jadi al-barakah adalah az-ziyadah wa an-namaa (tambahan dan pertumbuhan).
Kata ‘baraka’ beserta variannya banyak ditemukan dalam al-Quran dan hadits Rasulullah SAW. Misalnya, Allah SWT berfirman,
وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَهُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
“Dan ini (Al Qur'an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Umulkura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur'an), dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.” (QS. Al-An’am [6]: 92)
Allah SWT juga berfirman,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf [7]:96)
Kata ‘berkah’ dalam hadits Rasulullah SAW dapat kita lihat pada hadits berikut;
عن وحشي بن حرب رضي الله عنه أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا يا رسول الله إنا نأكل ولا نشبع قال فلعلكم تفترقون قالوا نعم قال فاجتمعوا على طعامكم واذكروا اسم الله يبارك لكم فيه رواه أبو داود
Dari Wahsyi bin Harb radhiyallahu ‘anhu, bahwa sejumlah sahabat Rasulullah SAW pernah bertanya padanya, “Ya Rasulallah, kami pernah makan tapi tidak merasa kenyang?” Rasulullah SAW pun bersabda, “Bisa jadi kalian makan dalam keadaan sendiri-sendiri.”Mereka menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Berkumpullah kalian pada makanan kalian dan sebutlah nama Allah (sebelum makan), niscaya Allah berikan padanya (makanan) keberkahan buat kalian.” HR. Abu Daud
Rasulullah SAW juga bersabda, “Sesungguhnya makan sahur adalah berkah yang Allah berikan kepada kalian, maka janganlah kalian meninggalkannya.” HR. Ahmad dan Nasai.
Kata ‘berkah’ juga dapat kita temukan dalam do’a Rasulullah saw buat sahabatnya. diriwayatkan dari Anas Ra. dari Ummu Sulaim, ia berkata, “Wahai Rasulullah, pelayanmu, Anas, doakanlah dia.” Maka Rasulullah SAW pun berdoa, “Ya Allah, berilah dia harta dan anak yang banyak, dan berkahilah apa yang telah Engkau karuniakan padanya.” (HR. Bukhari)
Bagaimana Meraih Berkah Ramadhan?
Ramadhan adalah bulan penuh berkah, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam khutbahnya yang beliau sampaikan jelang Ramadhan, karena seluruh amal saleh yang dilakukan pada bulan ini dilipatgandakan pahalanya. Sehingga amalan yang tampaknya kecil dan sederhana tetap mendapatkan pahala yang melimpah dari Allah SWT.
Untuk menggapai keberkahan-keberkahan tersebut, setidaknya diperlukan empat hal, yang disingkat dengan 4 I, yaitu;
1. Iman
Iman adalah tolok ukur diterima atau tidaknya amal seseorang. Sebagaimana firman Allah SWT,
إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” QS. Al-‘Ashr [103]: 2-3)
Hal ini juga ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadist yang diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra.
إِنَّ الْكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً أُطْعِمَ بِهَا طُعْمَةً مِنْ الدُّنْيَا وَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَإِنَّ اللَّهَ يَدَّخِرُ لَهُ حَسَنَاتِهِ فِي الْآخِرَةِ وَيُعْقِبُهُ رِزْقًا فِي الدُّنْيَا عَلَى طَاعَتِهِ
“Sesungguhnya orang kafir, apabila ia mengerjakan suatu kebaikan, maka ia diberi sesuap makanan dari dunia. Adapun orang mu`min, kebaikan-kebaikannya disimpan oleh Allah di akhirat dan ia diberi rizki di dunia karena ketaatannya.” (HR. Muslim)
2. Ilmu
Setiap ibadah yang kita lakukan harus didasarkan dalil, baik dari al-Quran maupun as-Sunnah. Di sinilah pentingnya kita selalu belajar, terutama mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan akidah dan ibadah kita, terutama dasar hukum dan tata cara pelaksanaannya.
Allah SWT berfirman,
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” QS. Al-Isra [17]: 36
Hal lain yang perlu kita ketahui adalah keutamaan-keutamaan di balik setiap ibadah yang kita lakukan, seperti keutamaan puasa ramadhan, sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Sehingga kita termotivasi untuk mendawamkannya sebagaimana mestinya.
Terkait dengan puasa Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudriy Ra, beliau SAW bersabda, “Siapa yangmelaksanakan puasa Ramadhan dalam dengan mengetahui batasan-batasannya dan menjaga dirinya dari apa-apa yang selayaknya dia menjaga dirinya darinya, maka dihapuskan dosa-dosanya yang telah dilakukan sebelumnya.” (HR. Ahmad dab Baihaqi)
Maka sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk membekali dirinya dengan hal-hal yang berkaitan dengan syarat-syarat dan rukun-rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, hal-hal yang dimakruhkan dan dibolehkan saat puasa, hal-hal yang membatalkan puasa dan lain sebagainya, supaya puasa yang dilakukannya sesuai dengan tuntunan syariah dan perbuatannya tidak sia-sia. Di samping pengetahuan yang berkenaan dengan puasa, pengetahuan-pengetahuan lain yang berkaitan dengan Ramadhan juga perlu seperti anjuran-anjuran, prioritas-prioritas amal yang harus dilakukan dalam Ramadhan, dan lain sebagainya agar setiap muslim dapat mengoptimalkan bulan ini sebaik mungkin.
3. Ihsan
Ihsan yang dimaksud di sini ialah melakukan kebaikan dan amal salih sebanyak-banyaknya, guna mendapatkan ridha dan rahmat Allah SWT. Suatu ketika, Rasulullah SAW ditanya oleh Malaikat Jibril, “Muhammad, beritahukan kepadaku tentang ihsan?”
Rasulullah saw kemudian menjawab, “Ihsan ialah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihatnya, maka yakinlah bahwa Dia pasti melihatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah SWT berfirman,
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah [2]: 195)
Pada ayat lain, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf [7]: 56)
Adapun bentuk ihsan dan amal saleh yang dapat dilakukan pada bulan Ramadhan, antara lain, puasa Ramadhan, shalat tarawih, memperbanyak tilawah al-Quran, memperbanyak sedekah, memberikan makanan buka puasa, menunaikan zakat dan sebagainya—sebagaimana yang akan diuraikan pada pembahasan berikutnya.
4. Ikhlas
Setiap ibadah dan amal salih harus disertai dengan niat ikhlas, termasuk ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Allah SWT berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)
Dalam hadits dari Umar bin Khatthab, Rasulullah SAW bersabda,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ (بِالنِّيَّاتِ) وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
"Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya ia akan mendapatkan sesuatu yang diniatkannya, barangsiapa hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya untuk memperoleh dunia atau seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya." (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya)
Amaliah Ramadhan
Sebagai bulan penuh berkah, tentu amal-amal salih yang dilaksanakan di dalamnya pun akan mendapatkan keberkahan yang melimpah dari Allah SWT. Selain kewajiban menjalankan puasa Ramadhan, terdapat pula amalan-amalan lainnya yang sangat dianjurkan dilakukan pada bulan ini, guna meraih berkah Allah SWT;
1. Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun insti Islam. Karenanya, Rasulullah SAW mengancam orang yang sengaja tidak puasa pada siang hari bulan Ramadhan. Beliau SAW bersabda, “Siapa yang tidak berpuasa satu hari pada bulan Ramadhan bukan karena ada keringanan (udzur) yang diberikan Allah kepadanya, maka puasa yang ditinggalkannya tidak dapat digantikan dengan puasa setahun penuh, meskipun dia berpuasa selama itu.”(HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi)
Sebaliknya, siapa yang puasa atas dasar iman dengan ikhlas karena Allah SWT, niscaya Allah ampuni dosa-dosanya. Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذنبه
Siapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, Ahmad dan Nasa’i)
2. Memperbanyak tilawah al-Quran
Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali turun dari lauhul mahfuz ke langit dunia sekaliagus. Allah berfirman, Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)(al baqarah: 185)
Al-Qur’an adalah pedoman hidup kita. Selain itu, al-Qur’an juga dikenal sebagai bayyinah (kitab yang menjelaskan berbagai hal), al-Furqan (pembeda), rahmat (kasih sayang), Syifa (obat yang menyembuhkan), Dzikr (peringatan), dan sebagainya. Karenanya, Allah SWT mengancam orang yang berpaling dari ajaran al-Qur’an dengan kehinaan, di dunia dan akhirat.
Allah SWT berfirman, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan". Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (QS. Thaha [20]: 124-127)
Sebaliknya, siapa yang dekat dengan al-Qur’an dengan membaca, menghapal dan mempelajarinya, maka Allah SWT akan memberikan kepada mereka banyak kebaikan, kemudliaan syafaat dan ketenangan dalam kehidupannya. Bahkan, menurut Rasulullah saw, orang yang terbaik itu adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan al-Qur’an. (HR. Bukhari)
Abdullah bin Mas’ud, salah satu sahabat terkemuka Rasulullah saw menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah menyebutkan berbagai keutamaan al-Qur’an dan para pembacanya. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya al-Qur’an adalah hidangan jamuan dari Allah, maka terimalah jamuan tersebut sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya al-Qur’an adalah tali Allah yang kokoh, cahaya yang benderang, obat yang bermanfaat, penjaga dari kesalahan bagi orang yang berpegang teguh dengannya, serta keselamatan bagi orang yang mengikutinya. Ia tidak melenceng sehingga perlu dibenarkan dan tidak pula bengkok sehingga harus diluruskan. Keajaibannya tiada pernah terhenti dan tiada pernah usang meskipun sering dibaca berkali-kali. Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya Allah memberikan pahala jika kalian membacanya. Satu huruf dibalas dengan sepuluh kebaikan. Ingat, aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR. Al-Hakim).
Ibnu Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus."
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin 'Amru ra, Rasulullah SAW bersabda,
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ
"Puasa dan Al Qur'an kelak pada hari kiamat akan memberi syafa'at kepada seorang hamba. Puasa berkata, ‘Duhai Rabb, aku telah menahannya dari makanan dan nafsu syahwat di siang hari, maka izinkahlah aku memberi syafa'at kepadanya.’ Dan Al Qur'an berkata, ‘Aku telah menahannya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafa'at kepadanya.’ Beliau melanjutkan sabdanya, “Maka mereka berdua (puasa dan Al Qur'an) pun akhirnya memberi syafa'at kepadanya." (HR. Ahmad)
Karenanya, orang-orang dahulu dan ulama salaf, mereka memanfaatkan kesempatan ini dengan mengkhatamkan tilawah al-Quran hingga berkali-kali sepanjang bulan Ramadhan. Imam Malik radhiyallahu ‘anhu, jika Ramadhan tiba, beliau meninggalkan pembacaan hadits dan memberikan fatwa, juga majlis-majelis ilmu, beliau focus membaca al-Quran. Qatadah, ahli tafsir dari tabi’in khatam setiap tujuh hari. Ibrahim an-Nakhaiy khatam setiap tiga hari. Bahkan, Imam Syafi’I, ulama madzhab syafi’I yang paling banyak diikuti di negeri ini, beliau khatam baca al-Quran dua kali sehari.
3. Memperbanyak sujud
Sujud adalah simbol terpenting dalam penghambaan diri di hadapan Tuhan, sebagaimana yang diserukan para nabi dan rasul, sejak Adam hingga Nabi Muhammad SAW. Bahkan Allah SWT menganggap orang-orang yang enggan bersujud kepada-Nya sebagai orang yang sombong. Sebaliknya, siapa yang banyak bersujud kepada-Nya maka Allah SWT akan menyambutnya, memuliakannya dan mengabulkan permohonan-permohonannya. Dalam hadistnya, Rasulullah SWT menyebutkan bahwa seorang hamba di mana ia sangat dekat dengan Tuhan-nya adalah pada saat ia bersujud. (HR. Muslim)
Dalam Islam, selain simbol penghambaan diri sujud juga menjadi simbol utama shalat kita. Sebagai seorang muslim yang taat, paling tidak, dalam sehari semalam kita bersujud di hadapan Allah SWT sebanyak 34 kali (setiap rakaat kita sujud sebanyak dua kali, sementara shalat yang wajib dilaksanakan setiap hari adalah 17 rakaat, kecuali orang yang melakukan shalat qashar atau wanita yang berhalangan).
Selama ramadhan, ratusan—atau bahkan ribuan kali—kita bersujud. Bayangkan ketika kita melakukan qiyam Ramadhan minimal 11 rakaat setiap malam, maka dalam sebulan Ramadhan kita melakukan sujud sebanyak 660 kali sujud. Apalagi jika kita menambahinya lagi dengan shalat witir, shalat sunnah qabliyah dan ba’diyah, shalat dhuha dan sebagainya.
Sekali waktu, Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami, salah satu khadim Rasulullah SAW dari kalangan ahlus-shiffah, menginap di rumah beliau. Saat Rasulullah saw terbangun, Ka’ab langsung mengambil air untuk digunakan oleh Rasulullah saw berwudhu. Di sela-sela wudhu’nya, tiba-tiba Rasulullah saw menyuruh Ka’ab untuk meminta padanya. Lalu apa permintaan Ka’ab kala itu? Dia meminta, “Wahai Rasulullah, aku meminta untuk menjadi pendampingmu kelak di surga.” Setelah mendengar permintaan sahabatnya itu, Rasulullah SAW bertanya lagi, “Apakah ada permintaan lainnya?” Sahabat mulia itu hanya mengatakan, “Tidak, Cuma itu!”
Lalu apa tanggapan Rasulullah saw? Beliau SAW menasihatkan kepadanya,
فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ
“(Kalau begitu) bantulah aku mewujudkan permintaanmu itu dengan banyak bersujud.” (HR. Muslim, No. 754)
Pada kesempatan lain, seorang sahabat datang kepada Rasulullah saw untuk bertanya tentang amalan yang paling disukai oelh Allah SWT serta amalan penting yang dapat memasukkannya ke dalam surga. Lalu apa jawaban Rasulullah saw? Beluiau saw menasihatkan kepadanya,
عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً
“Hendaklah kamu memperbanyak sujud! Tidaklah kamu melakukan satu sujud melainkan Allah SWT mengangkat derajatmu dan menghapuskan kesalahanmu.” (HR. Muslim, No. 753)
4. Memperbanyak doa
Doa tergolong ibadah yang paling utama di sisi Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat dan hadits. Bahkan Allah SWT menyebut orang yang enggan berdoa sebagai orang yang sombong.
Allah SWT berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)
Bahkan dalam haditsnya, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa salah satu doa yang tidak tertolak adalah doa orang yang puasa hingga berbuka. Selain itu, sepanjang Ramadhan, Allah SWT berikan kesempatan yang sangat istimewa, yaitu waktu-waktu diijabahnya doa-doa kita, seperti saat kita sahur, berbuka, dan sepanjang hari saat kita puasa.
5. Memperbanyak infak dan sedekah
Rasulullah Saw. bersabda: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan” (HR. Tirmizi).
Ibnu Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus."
Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا الطَّيِّبَ وَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ.
"Barangsiapa yang bershadaqah dengan sebutir kurma hasil dari usahanya sendiri yang baik (halal), sedangkan Allah tidak menerima kecuali yang baik saja, maka sungguh Allah akan menerimanya dengan tangan kananNya lalu mengasuhnya untuk pemiliknya sebagaimana jika seorang dari kalian mengasuh anak kudanya hingga membesar seperti gunung". (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah dan Nasa’i, dari Abu Hurairah ra.)
Rasulullah saw juga bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
"Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; "Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya", sedangkan yang satunya lagi berkata; "Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) ". (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah ra.)
6. Membiasakan diri beri’tikaf
I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah. I’tikaf disunahkan bagi laki-laki dan perempuan; karena Rasulullah Saw. selalu beri’tikaf terutama pada sepuluh malam terakhir dan para istrinya juga ikut I’tikaf bersamanya. Dan hendaknya orang yang melaksanakan I’tikaf memperbanyak zikir, istigfar, membaca Al-Qur’an, berdoa, shalat sunnah dan lain-lain.
Dari ‘Aisyah ra bahwa Nabi SAW selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sepeninggalnya. Muttafaq Alaihi.
7. Melaksanakan umrah
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melaksanakan umrah, karena umroh pada bulan Ramadhan memiliki pahala seperti pahala haji bahkan pahala haji bersama Rasulullah Saw. Beliau bersabda: “Umroh pada bulan Ramadhan seperti haji bersamaku.”
8. Menggapai Keutamaan Lailatul Qadr
Lailatul Qadr adalah malam penuh berkah dan kemuliaan, sebagaimana disebutkan Allah SWT dalam Surat al-Qadr. Al-Quran diturunkan oleh Allah pada malam ini, sebagaimana firman Allah SWT,
وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ، إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ، فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Demi Kitab (Al Qur'an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad-Dukhan [44]: 2-4)
Lailatul Qadr memiliki keutamaan yang sangat banyak, antara lain, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa melakukan shalat malam pada lailatul qadr, niscaya Allah ampuni dosa-dosanya di masa lalu.” (Muttafaq ‘alaih)
Tentang waktunya, Rasulullah SAW bersabda, “Carilah lailatul qadr pada bilangan ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Meraih Berkah Ramadhan Bersama Keluarga
Keberkahan bulan Ramadhan bukan hanya milik pribadi, tetapi seluruh anggota keluarga dapat meraih dan merasakan kenikmatannya, di dunia dan akhirat. Hal itu dapat tercapai jika seluruh anggota keluarga bekerja sama dan saling tolong menolong dalam menunaikan ibadah dan amaliyah Ramadhan, seperti shalat malam, sahur, tilawah, buka puasa dan sebagainya.
Allah SWT berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]: 6)
Tentang ayat ini, Ali RA berkata, “Ajari diri kalian dan keluarga kalian tentang kebaikan, didiklah mereka untuk itu.” Secara umum suami bertanggung jawab melindungi sitri dan anak-anaknya dari neraka dengan mengajarkan kepada mereka tauhid yang kuat, cara menjalankan ibadah yang tepat dan beraklak mulia.
Allah memuji Ismail as dengan firman-Nya:
وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا
“Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam [19]:55)
Allah juga berfirman,
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS Thaha [20]: 132)
Pada ayat ini Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyuruh keluarganya shalat, dan melaksanakannya bersama mereka, bersabar, dan sennatiasa menyertai mereka dalam hal itu. Perintah ini juga berlaku untuk seluruh umatnya secara umum.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Salam ra, ia berkata, “Jika Nabi saw mengalami masalah dalam keluarganya atau merasa tertekan, beliau memerintahkan mereka untuk shalat, lalu beliau membaca ayat ini (QS. Thaha: 132).
Imam muslim meriwayatkan, bahwa jika nabi saw telah melaksanakan shalat witir beliau membangunkan keluarganya. Beliau SAW bersabda, “Bangunlah dan shalatlah witir, hai Aisyah.” (HR. Muslim)
Umar bin Khattab juga selalu bangun malam, untuk melaksanakan shalat pada akhir malam dan membangunkan keluarganya untuk shalat, “Sahalat…shalat.” Kemudian membacakan ayat, QS. Thaha:132 (Imam Malik dalam al Muwatta’)
Malik bin Dinar melihat seorang laki-laki yang shalatnya tidak benar. Ia berkata, “Aku Kasihan kepada keluarganya.” Seorang bertanya padanya, “Abu Yahya, orang ini shalatnya tidak benar, tetapi mengapa engkau justeru kasihan kepada keluarganya?” ia menjawab, “Ia adalah orang yang paling tua di antara mereka, dan darinyalah keluarganya belajar.” (Hilyah al Auliay, 2/384)
Dalam bulan Ramadhan, alangkah baiknya jika anak-anak dibangunkan makan sahur untuk ikut puasa. Anak-anak, walaupun tidak diwajibkan berpuasa, tapi bagi walinya harus menyuruhnya supaya mereka berlatih dan membiasakan diri mengerjakan ibadah puasa sejak usia dini, sehingga dia terbiasa dan mampu melaksanakannya.
Dari Rubayyi’ binti Muawwidz, bahwa pada pagi hari Asyura, Rasulullah mendatangi suatu perkampungan Anshar. Beliau bertanya, “Siapa yang berpuasa sejak pagi, hendaknya meneruskan puasanya, dan siapa yang tidak berpuasa sejak pagi, hendaknya dia berpuasa pada sisa harinya.” Setelah itu, kami pun berpuasa dan menyuruh anak-anak kamiyang masih kecil supaya berpuasa juga. Kami mengajak mereka ke masjid dan membuatkan permainan untuk mereka dari bulu domba. Jika di antara mereka ada yang menangis meminta meminta makanan, maka kami memberinya mainan itu. Keadaan ini berlangsung hingga waktu berbuka puasa tiba’. HR. Bukhari dan Muslim
Demikian pula dengan ibadah-ibadah lainnya, seperti ibadah shalat, tilawah al-Quran, shalat jamaah di masjid, bersedekah dan memanfaatkan bulan Ramadhan dengan baik dengan mengisinya kegiatan-kegiatan yang positif.
Wallahu A’lam bis-Shawab.
[1] M. Yusuf Shandy lahir di Bulukumba (Sul-Sel), 7 Juli; alumni KMI Darusl Istiqamah, Maccopa-Maros dan Fakultas Syariah, Univ. Imam Muhammad Ibn Sa’ud Riyadh (LIPIA Jakarta); mahasiswa jurusan pendidikan dan pemikiran Islam, Pascasarjana Univ. Ibn Khaldun Bogor, Jabar. Sehari-hari bekerja di Kaunee Center [Dakwah, Konsultasi, Motivasi dan Training] Jakarta. Penulis dapat dihubungi melalui email: my.shandy@gmail.com, myshandy77@yahoo.com, atau Hp. 0813.1344.3456 dan 087.888.04.2007.
[2] Materi telah disampaikan di
- Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakpus, 22 Juli 2011
- MaBIT Karyawan CMNP, Sunter, Jakut
- DLL...